HMI
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Latar
Belakang Sejarah Berdirinya HMI
Kalau ditinjau secara
umum ada 4 (empat) permasalahan yang menjadi latar belakang sejarah berdirinya
HMI.
Situasi Dunia Internasional.
Berbagai argumen telah
diungkapkan sebab-sebab kemunduran ummat Islam. Tetapi hanya satu hal yang
mendekati kebenaran, yaitu bahwa kemunduran ummat Islam diawali dengan
kemunduran berpikir, bahkan sama sekali menutup kesempatan untuk berpikir. Yang
jelas ketika ummat Islam terlena dengan kebesaran dan keagungan masa lalu maka
pada saat itu pula kemunduran menghinggapi kita.
Akibat dari keterbelakangan ummat Islam , maka munculah gerakan untuk menentang
keterbatasan seseorang melaksanakan ajaran Islam secara benar dan utuh. Gerakan
ini disebut Gerakan Pembaharuan. Gerakan Pembaharuan ini ingin mengembalikan
ajaran Islam kepada ajaran yang totalitas, dimana disadari oleh kelompok ini,
bahwa Islam bukan hanya terbatas kepada hal-hal yang sakral saja, melainkan
juga merupakan pola kehidupan manusia secara keseluruhan. Untuk itu sasaran
Gerakan Pembaharuan atau reformasi adalah ingin mengembalikan ajaran Islam
kepada proporsi yang sebenarnya, yang berpedoman kepada Al Qur’an dan Hadist
Rassullulah SAW.
Dengan timbulnya ide pembaharuan itu, maka Gerakan Pem-baharuan
di dunia Islam bermunculan, seperti di Turki (1720), Mesir (1807). Begitu juga
penganjurnya seperti Rifaah Badawi Ath Tahtawi (1801-1873), Muhammad Abduh
(1849-1905), Muhammad Ibnu Abdul Wahab (Wahabisme) di Saudi Arabia (1703-1787),
Sayyid Ahmad Khan di India (1817-1898), Muhammad Iqbal di Pakistan (1876-1938)
dan lain-lain.
Situasi NKRI
Tahun 1596 Cornrlis de
Houtman mendarat di Banten. Maka sejak itu pulalah Indonesia dijajah Belanda.
Imprealisme Barat selama ± 350 tahun membawa paling tidak 3 (tiga) hal :
• Penjajahan itu sendiri dengan segala bentuk implikasinya.
• Missi dan Zending agama Kristiani.
• Peradaban Barat dengan ciri sekulerisme dan liberalisme.
Setelah melalui perjuangan secara terus menerus dan atas rahmat Allah SWT maka
pada tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta Sang Dwi Tunggal Proklamasi atas
nama bangsa Indonesia mengumandangkan kemerdekaannya.
Kondisi Mikrobiologis Ummat Islam di Indonesia
Kondisi ummat Islam sebelum berdirinya HMI dapat dikategorikan menjadi 4
(empat) golongan, yaitu : Pertama : Sebagian besar yang melakukan ajaran Islam
itu hanya sebagai kewajiban yang diadatkan seperti dalam upacara perkawinan,
kematian serta kelahiran. Kedua : Golongan alim ulama dan pengikut-pengikutnya
yang mengenal dan mempraktekkan ajaran Islam sesuai yang dilakukan oleh Nabi
Muhammad SAW. Ketiga : Golongan alim ulama dan pengikut-pengikutnya yang
terpengaruh oleh mistikisme yang menyebabkan mereka berpendirian bahwa hidup
ini adalah untuk kepentingan akhirat saja. Keempat : Golongan kecil yang
mencoba menyesuaikan diri dengan kemajuan jaman, selaras dengan wujud dan
hakekat agama Islam. Mereka berusaha supaya agama Islam itu benar-benar dapat
dipraktekkan dalam masyarakat Indonesia.
Kondisi Perguruan Tinggi dan Dunia Kemahasiswaan
Ada dua faktor yang sangat dominan yang mewarnai Perguruan
Tinggi (PT) dan dunia kemahasiswaan sebelum HMI berdiri. Pertama: sisitem yang
diterapkan dalam dunia pendidikan umumnya dan PT khususnya adalah sistem
pendidikan barat, yang mengarah kepada sekulerisme yang “mendangkalkan agama
disetiap aspek kehidupan manusia”. Kedua : adanya Perserikatan MAHASISWA
Yogyakarta (PMY) dan Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) di Surakarta dimana
kedua organisasi ini dibawah pengaruh Komunis. Bergabungnya dua faham ini
(Sekuler dan Komunis), melanda dunia PT dan Kemahsiswaan, menyebabkan timbulnya
“Krisis Keseimbangan” yang sangat tajam, yakni tidak adanya keselarasan antara
akal dan kalbu, jasmani dan rohani, serta pemenuhan antara kebutuhan dunia dan
akhirat.
LATAR BELAKANG PEMIKIRAN
Berdirinya Himpunan
Mahasiswa Islam (HMI) diprakasai oleh Lafran Pane, seorang mahasiswa STI
(Sekolah Tinggi Islam), kini UII (Universitas Islam Indonesia) yang masih duduk
ditingkat I yang ketika itu genap berusia 25 tahun. Tentang sosok Lafran Pane,
dapat diceritakan secara garis besarnya antara lain bahwa Pemuda Lafran Pane
lahir di Sipirok-Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Beliau adalah anak seorang
Sutan Pangurabaan Pane –tokoh pergerakan nasional “serba komplit” dari Sipirok,
Tapanuli Selatan-. Lafaran Pane adalah sosok yang tidak mengenal lelah dalam
proses pencarian jati dirinya, dan secara kritis mencari kebenaran sejati.
Lafran Pane kecil, remaja dan menjelang dewasa yang nakal, pemberontak, dan
“bukan anak sekolah yang rajin” adalah identitas fundamental Lafran sebagai
ciri paling menonjol dari Independensinya. Sebagai figur pencarai sejati,
independensi Lafran terasah, terbentuk, dan sekaligus teruji, di
lembaga-lembaga pendidikan yang tidak Ia lalui dengan “Normal” dan “lurus” itu
(-Walau Pemuda Lafran Pane yang tumbuh dalam lingkungan nasionalis-muslim
terpelajar pernah juga menganyam pendidikan di Pesantren Ibtidaiyah, Wusta dan
sekolah Muhammadiyah-) ; pada hidup berpetualang di sepanjang jalanan kota
Medan, terutama di kawasan Jalan Kesawan; pada kehidupan dengan tidur tidak
menentu; pada kaki-kaki lima dan emper pertokoan; juga pada kehidupan yang Ia
jalani dengan menjual karcis bioskop, menjual es lilin, dll.
Dari perjalanan hidup Lafran dapat diketahui bahwa struktur fundamental
independensi diri Lafran terletak pada kesediaan dan keteguhan Dia untuk terus
secara kritis mencari kebenaran sejati dengan tanpa lelah, dimana saja, kepada
saja, dan kapan saja.
Adapun latar belakang pemikirannya dalam pendirian HMI adalah: “Melihat dan
menyadari keadaan kehidupan mahasiswa yang beragama Islam pada waktu itu, yang
pada umumnya belum memahami dan mengamalkan ajaran agamanya. Keadaan yang
demikian adalah akibat dari sitem pendidikan dan kondisi masyarakat pada waktu
itu. Karena itu perlu dibentuk organisasi untuk merubah keadaan tersebut.
Organisasi mahasiswa ini harus mempunyai kemampuan untuk mengikuti alam pikiran
mahasiswa yang selalu menginginkan inovasi atau pembaharuan dalam segala
bidang, termasuk pemahaman dan penghayatan ajaran agamanya, yaitu agama Islam. Tujuan
tersebut tidak akan terlaksana kalau NKRI tidak merdeka, rakyatnya melarat.
Maka organisasi ini harus turut mempertahankan Negara Republik Indonesia
kedalam dan keluar, serta ikut memperhatikan dan mengusahakan kemakmuran
rakyat”
Namun demikian, secara
keseluruhan Latar Belakang Munculnya Pemikiran dan Berdirinya HMI dapat
dipaparkan secara garis besar karena faktor, sebagai berikut :
1. Penjajahan Belanda atas Indonesia dan Tuntutan Perang Kemerdekaan
Ø Aspek Politik :
Indonesia menjadi objek jajahan Belanda
Ø Aspek Pemerintahan :
Indonesia berada di bawah pemerintahan kerajaan Belanda
Ø Aspek Hukum : Hukum
berlaku diskriminatif
Ø Aspek pendidikan :
Proses pendidikan sangat dikendalikan oleh Belanda.
- Ordonansi guru
- Ordonansi sekolah liar
Ø Aspek ekonomi :
Bangsa Indonesia berada dalam kondisi ekonomi lemah
Ø Aspek kebudayaan :
masuk dan berkembangnya kebudayaan yang bertentangan dengan kepribadian Bangsa
Indonesia
Ø Aspek Hubungan
keagamaan : Masuk dan berkembagnya Agama Kristen di Indonesia, dan Umat Islam
mengalami kemunduran
2. Adanya Kesenjangan dan kejumudan umat dalam pengetahuan, pemahaman, dan
pengamalan ajaran islam
3. Kebutuhan akan pemahaman dan penghayatan Keagamaan
4. Munculnya polarisasi politik
5. Berkembangnya fajam dan Ajaran komunis
6. Kedudukan perguruan tinggi dan dunia kemahasiswaan yang strategis
7. Kemajemukan Bangsa Indonesia
8. tuntutan Modernisasi dan tantangan masa depan
Peristiwa Bersejarah 5
Februari 1947
Setelah beberapa kali mengadakan pertemuan yang berakhir dengan kegagalan.
Lafran Pane mengadakan rapat tanpa undangan, yaitu dengan mengadakan pertemuan
secara mendadak yang mempergunakan jam kuliah Tafsir. Ketika itu hari Rabu
tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H, bertepatan dengan 5 Februari 1947, disalah satu
ruangan kuliah STI di Jalan Setiodiningratan (sekarang Panembahan Senopati),
masuklah mahasiswa Lafran Pane yang dalam prakatanya dalam memimpin rapat
antara lain mengatakan “Hari ini adalah pembentukan organisasi Mahasiswa Islam,
karena persiapan yang diperlukan sudah beres. Yang mau menerima HMI sajalah
yang diajak untuk mendirikan HMI, dan yang menentang biarlah terus menentang,
toh tanpa mereka organisasi ini bisa berdiri dan berjalan”
Lafran Pane mendirikan HMI bersama 14 orang mahasiswa STI lannya, tanpa campur
tangan pihak luar.
Pada awal pembentukkannya HMI bertujuan diantaranya antara lain:
1. Mempertahankan dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia.
2. Menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam.
Sementara tokoh-tokoh pemula / pendiri HMI antara lain :
1. Lafran Pane
(Yogya)
2. Karnoto Zarkasyi (Ambarawa)
3. Dahlan Husein (Palembang)
4. Siti Zainah (istri Dahlan Husein-Palembang)
5. Maisaroh Hilal (Cucu KH.A.Dahlan-Singapura)
6. Soewali (Jember)
7. Yusdi Ghozali (Juga pendiri PII-Semarang)
|
8. Mansyur,
9. M. Anwar (Malang)
10. Hasan Basri (Surakarta)
11. Marwan (Bengkulu)
12. Zulkarnaen (Bengkulu)
13. Tayeb Razak (Jakarta)
14. Toha Mashudi (Malang)
15. Bidron Hadi (Yogyakarta)
|
Faktor Pendukung
Berdirinya HMI
1. Posisi dan arti kota Yogyakarta
a. Yogyakarta sebagai Ibukota NKRI dan Kota Perjuangan
b. Pusat Gerakan Islam
c. Kota Universitas/ Kota Pelajar
d. Pusat Kebudayaan
e. Terletak di Central of Java
2. Kebutuhan Penghayatan dan Keagamaan Mahasiswa
3. Adanya tuntutan perang kemerdekaan bangsa Indonesia
4. Adanya STI (Sekolah Tinggi Islam), BPT (Balai Perguruan Tinggi)
5. Gajah Mada, STT (Sekolah Tinggi Teknik).
6. Adanya dukungan Presiden STI Prof. Abdul Kahar Muzakir
7. Ummat Islam Indonesia mayoritas
Faktor Penghambat
Berdirinya HMI
Munculnya reaksi-reaksi dari :
1. Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY)
2. Gerakan Pemuda Islam (GPII)
3. Pelajar Islam Indonesia (PII)
FASE-FASE PERKEMBANGAN SEJARAH HMI
1. Fase Konsolidasi
Spiritual (1946-1947)
Sudah diterangkan diatas
2. Fase Pengokohan (5 Februari 1947 – 30 November 1947)
Selama lebih kurang 9 (sembilan) bulan, reaksi-reaksi terhadap kelahiran HMI
barulah berakhir. Masa sembilan bulan itu dipergunakan untuk menjawab berbagai
reaksi dan tantangan yang datang silih berganti, yang kesemuanya itu semakin
mengokohkan eksistensi HMI sehingga dapat berdiri tegak dan kokoh.
3. Fase Perjuangan
Bersenjata (1947 – 1949)
Seiring dengan tujuan HMI yang digariskan sejak awal berdirinya, maka
konsekuensinya dalam masa perang kemerdekaan, HMI terjun kegelanggang
pertempuran melawan agresi yang dilakukan oleh Belanda, membantu Pemerintah,
baik langsung memegang senjata bedil dan bambu runcing, sebagai staff,
penerangan, penghubung. Untuk menghadapi pemberontakkan PKI di Madiun 18
September 1948, Ketua PPMI/ Wakil Ketua PB HMI Ahmad Tirtosudiro membentuk
Corps Mahasiswa (CM), dengan Komandan Hartono dan wakil Komandan Ahmad
Tirtosudiro, ikut membantu Pemerintah menumpas pemberontakkan PKI di Madiun,
dengan mengerahkan anggota CM ke gunung-gunung, memperkuat aparat pemerintah. Sejak
itulah dendam kesumat PKI terhadap HMI tertanam. Dendam disertai benci itu
nampak sangat menonjol pada tahun \’64-\’65, disaat-saat menjelang meletusnya
G30S/PKI.
4. Fase Pertumbuhan
dan Perkembangan HMI (1950-1963)
Selama para kader HMI banyak yang terjun ke gelanggang pertempuran melawan
pihak-pihak agresor, selama itu pula pembinaan organisasi terabaikan. Namun hal
itu dilakukan secara sadar, karena itu semua untuk merealisir tujuan dari HMI
sendiri, serta dwi tugasnya yakni tugas Agama dan tugas Bangsa. Maka dengan
adanya penyerahan kedaulatan Rakyat tanggal 27 Desember 1949, mahasiswa yang
berniat untuk melanjutkan kuliahnya bermunculan di Yogyakarta. Sejak tahun 1950
dilaksankanlah tugas-tugas konsolidasi internal organisasi. Disadari bahwa konsolidasi
organisasi adalah masalah besar sepanjang masa. Bulan Juli 1951 PB HMI
dipindahkan dari Yogyakarta ke Jakarta.
5. Fase Tantangan
(1964 – 1965)
Dendam sejarah PKI kepada HMI merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi HMI.
Setelah agitasi-agitasinya berhasil membubarkan Masyumi dan GPII, PKI
menganggap HMI adalah kekuatan ketiga ummat Islam. Begitu bersemangatnya PKI
dan simpatisannya dalam membubarkan HMI, terlihat dalam segala aksi-aksinya,
Mulai dari hasutan, fitnah, propaganda hingga aksi-aksi riil berupa penculikan,
dsb.
Usaha-usaha yang gigih dari kaum komunis dalam membubarkan HMI
ternyata tidak menjadi kenyataan, dan sejarahpun telah membeberkan dengan jelas
siapa yang kontra revolusi, PKI dengan puncak aksi pada tanggal 30 September
1965 telah membuatnya sebagai salah satu organisasi terlarang.
6. Fase Kebangkitan
HMI sebagai Pelopor Orde Baru (1966 – 1968)
HMI sebagai sumber insani bangsa turut mempelopori tegaknya Orde Baru untuk
menghapuskan orde lama yang sarat dengan ketotaliterannya. Usaha-usaha itu
tampak antara lain HMI melalui Wakil Ketua PB Mari\’ie Muhammad memprakasai
Kesatuan Aksi Mahasiswa (KAMI) 25 Oktober 1965 yang bertugas antara lain : 1)
Mengamankan Pancasila. 2) Memperkuat bantuan kepada ABRI dalam penumpasan
Gestapu/ PKI sampai ke akar-akarnya. Masa aksi KAMI yang pertama berupa Rapat
Umum dilaksanakan tanggal 3 Nopember 1965 di halaman Fakultas Kedokteran UI
Salemba Jakarta, dimana barisan HMI menunjukan superioitasnya dengan massanya
yang terbesar. Puncak aksi KAMI terjadi pada tanggal 10 Januari 1966 yang
mengumandangkan tuntutan rakyat dalam bentuk Tritura yang terkenal itu.
Tuntutan tersebut ternyata mendapat perlakuan yang represif dari aparat
keamanan sehingga tidak sedikit dari pihak mahasiswa menjadi korban. Diantaranya
antara lain : Arif rahman Hakim, Zubaidah di Jakarta, Aris Munandar, Margono
yang gugur di Yogyakarta, Hasannudin di Banjarmasin, Muhammad Syarif al-Kadri
di Makasar, kesemuanya merupakan pahlawan-pahlawan ampera yang berjuang tanpa
pamrih dan semata-mata demi kemaslahatan ummat serta keselamatan bangsa serta
negara. Akhirnya puncak tututan tersebut berbuah hasil yang diharap-harapkan
dengan keluarnya Supersemar sebagai tonggak sejarah berdirinya Orde Baru.
7. Fase Pembangunan
(1969 – 1970)
Setelah Orde Baru mantap, Pancasila dilaksanakan secara murni serta konsekuen
(meski hal ini perlu kajian lagi secara mendalam), maka sejak tanggal 1 April
1969 dimulailah Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita). HMI pun sesuai
dengan 5 aspek pemikirannya turut pula memberikan sumbangan serta
partisipasinya dalam era awal pembagunan. Bentuk-bentuk partisipasi HMI baik
anggotanya maupun yang telah menjadi alumni meliputi diantaranya :
1) Partisipasi dalam pembentukan suasana, situasi dan iklim yang memungkinkan
dilaksanakannya pembangunan,
2) Partisipasi dalam pemberian konsep-konsep dalam berbagai aspek pemikiran
3) Partisipasi dalam bentuk pelaksana langsung dari pembangunan.
8. Fase Pergolakan dan
Pembaharuan Pemikiran (1970 – 1998 )
Suatu ciri khas yang dibina oleh HMI, diantaranya adalah kebebasan berpikir
dikalangan anggotanya, karena pada hakikatnya timbulnya pembaharuan karena
adanya pemikiran yang bersifat dinamis dari masing-masing individu.
Disebutkan bahwa fase pergolakan pemikiran ini muncul pada tahun 1970, tetapi
geja-gejalanya telah nampak pada tahun 1968. Namun klimaksnya memang terjadi
pada tahun 1970 dimana secara relatif masalah-masalah intern organisasi yang
rutin telah terselesaikan. Sementara dilain sisi persoalan ekstern muncul
menghadang dengan segudang problema.
Pada tahun 1970 Nurcholis Madjid menyampaikan ide pembaharuan dengan topic
keharusan pembaharuan didalam pemikiran Islam dan masalah integritas umat.
Sebagai konsekuensinya di HMI timbul pergolakan pemikiran dalam berbagai
substansi permasalahan yang. Perbedaan pendapat dan penafsiran menjadi dinamika
di dalam menginterpretasikan dinamika persoalan kebangsaan dan keumatan. Hal
ini misalnya dalam dialektika dan perbincangan seputar Negara dan Islam, konsep
Negara Islam, persoalan Islam Kaffah sampai pada penyesuaian dasar HMI dari
Islam menjadi Pancasila sebagai bentuk ijtihad organisasi didalam
mempertahankan cita-cita jangka panjang keummatan dan kebangsaan.
9. Fase Reformasi
Secara histories sejak tahun 1995 HMI mulai melaksanakan gerakan reformasi
dengan menyampaikan pandangan, gagasan dan kritik terhadap pemerintahan. Sesuai
dengan kebijakan PB HMI bahwa HMI tidak akan melakukan tindakan-tindakan
inkonstitusional dan konfrontatif. Gerakan koreksi pemerintahanpertama
disampaikan pada jaman konggres XX HMI di Istana Negara tanggal 21 Januari
1995. kemudian peringatan MILAD HMI Ke 50 Saudara Ketua Umum Taufiq Hidayat
menegaskan dan menjawab kritik-kritik yang menyebutkan bahwa HMI terlalu dekat
dengan kekuasaan. Bagi HMI kekuasaan bukanlah wilayah yang haram. Tetapi adalah
wilayah pencermatan dan kekritisan terhadap pemerintahan. Kemudian dalam
penyampaian Anas Urbaningrun pada MILAD HMI ke 51 di Graha Insan Cita Depok
tanggal 22 Pebruari 1998 dengan judul “Urgensi Reformasi bagi Pembangunan Bangsa
Yang Bermartabat”.
MASA DEPAN HMI
TANTANGAN DAN PELUANG
Kritik terhadap HMI datang dari dalam dan dari luar HMI. Kritik ini sangat
positif karena dengan demikian HMI akam mengetahui kekurangan dan kelebihan
organisasi. Sehingga kedepan kita mampu memperbaiki dan menentukan sikap dan
kebijakan yang sesuai dengan keadaan jaman.
Dari masa kemasa, beberapa persoalan yang dihadapkan pada HMI tentang kritik
independensi HMI, kedekatan dengan militer, sikap HMI terhadap komunisme,
tuntutan Negara Islam, dukungan terhadap rehabilitasi masyumi, penerimaan azas
tunggal Pancasila, adaptasi rasionalitas pemikiran, dan lain-lain yang
memberikan penilaian kemunduran terhadap HMI, Yahya Muhaimin dalam konggres HMI
ke XX mengemukakan konsep tentang revitalisasi, reaktualisasi,
refungsionalisasi, dan restrukturisasi organisasi. Anas Urbaningrum menjawabnya
dengan pemberian wacana politik etis HMI. Yakni dengan langkah : Peningkatan
visi HMI, intelektualisasi, penguasaan basis dan modernisasi organisasi.
Untuk pencapaian tujuan HMI perlu dipersiapkan kondisi yang tepat sebagai modal
untuk merekayasa masa depan sesuai dengan 5 kualitas insan cita HMI. Tantangan
yang dihadapi HMI dan masa depan bangsa Indonesia sangat komplek. Tetapi
justeru akan menjadi peluang yang sangat baik untuk memperjuangkan cita-cita
HMI sampai mencapai tujuan.
PENUTUP
Dengan mengetahui sejarah masa lampau dapat
diketahui kebesaran dan semangat juang HMI. Hal tersebut merupakan tonggak bagi
HMI untuk meneruskan perjuangan para pendahulunya pada masa kini dan menuju
hari esok yang lebih baik. Mempelajari HMI tidak hanya cukup dengan mengikuti
training formal. Mempelajari dan menghayati HMI harus dilakukan secara terus
menerus tanpa batas kapan dan dimanapun. Dengan cara seperti itulah pemahaman
dan penghayatan akan nilai-nilai HMI dapat dilakukan secata utuh dan benar.
Yakin usaha sampai bahagia hmi.
Arti Lambang HMI
1. Bentuk huruf alif: sebagai huruf hidup, melambangkan
rasa optimisme bagi kelangsungan hidup HMI pada masa depan;
2. Huruf alif merupakan angka 1 (satu): simbol kehidupan ber-Tauhid (perasaan
ber-Ketuhanan, sebagai dasar / dan semangat HMI;
3. Bentuk perisai: lambang kepeloporan HMI;
4. Bentuk jantung: sebagai pusat kehidupan manusia, melambangkan fungsi
perkaderan HMI;
5. Bentuk pena: melambangkan HMI organisasi mahasiswa yang senantiasa haus akan
ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi;
6. Gambar bulan bintang: lambang kejayaan umat Islam seluruh dunia;
7. Warna hijau: lambang keimanan, keislaman, dan kemakmuran;
8. Lambang hitam: lambang ilmu pengetahuan;
9. Keseimbangan warna hijau dan hitam: lambang keseimbangan, esensi, dan
kepribadian HMI;
10. Warna putih: lambang kemurnian dan kesucian perjuangan HMI.
11. Puncak tiga: lambang Iman, Islam, dan Ikhsan, serta wujud keterpaduan
antara iman, ilmu, dan amal; dan
12. Tulisan HMI: singkatan dari Himpunan Mahasiswa Islam.
HIMNE HMI
Bersyukur dan ikhlas
Himpunan mahasiswa islam
Yakin usaha sampai
Untuk kemajuan
Hidayah dan taufik
Bahagia HMI
Berdoa dan ikrar
Menjunjung tinggi syiar islam
Turut qur’an dan hadits
Jalan keselamatan
Ya Allah berkati
Bahagia HMI
|
MARS HIJAU HITAM
Bulan sabit kejayaan
Bintang lima kemenangan
Angka satu ketauhidan
Jantung pusat kehidupan
Hijau keteguhan iman
Hitam kedalaman ilmu
Putih ketulusan amal
Dibawah naungan Ilahi
Panji kemanusiaan t’lah dikibarkan
Pena kebenaran t’lah ditorehkan
Perisai keadilan t’lah ditegakkan
Himpunan mahasiswa islam
Iman perinsip abadi
Ilmu bekal yang hakiki
Amal kendaraan diri
Menuju ridho Ilahi
Panji kemanusiaan t’lah dikibarkan
Pena kebenaran t’lah ditorehkan
Perisai keadilan t’lah ditegakkan
Himpunan Mahasiswa Islam
|